Friday, January 27, 2017

Kenapa Kita Bersahabat Dengan XYZ ?

Hari pertama masuk kelas sebagai orang asing, kamu tentu akan mencari teman. Begitu menemukan bangku duduk kemungkinan besar kamu akan mengajak orang di samping, depan, belakang, kanan, dan kirimu untuk berkenalan dan mengobrol. Kamu akan bertanya apapun yang ingin kamu tahu tentang mereka seperti kamu menjawab semua hal yang mereka ingin tahu tentangmu. Lalu kalian mulai berbagi pelajaran di depan kelas, lalu pergi ke kantin bersama, pergi ke toilet bersama, sampai menjadi kelompok dalam tugas. Kalian mengulangi semua yang dilakukan hari pertama selama bertahun-tahun kemudian. Berangkat bersama, nongkrong bersama. Intinya, kalian akrab. Kalian cocok.
Tapi kamu pasti tahu kan saat kamu pertama kali duduk di bangku kelas dan berkenalan dengan sekeliling terdekatmu, belum tentu kalian akan bersahabat? Kamu barangkali akan (entah dalam waktu berapa lama) dekat dengan teman yang lain, lalu berganti teman dekat dan teman bermain. Menurutmu kenapa itu bisa terjadi?
Ya. Kamu mungkin berteman dengan seisi kelas, tapi sahabatmu kemungkinan hanya 1 sampai 3 saja. Bukan masalah jumlah tapi KENAPA kamu bersahabat dengan dia, dengan XYZ itu?
Jawabannya adalah karena mereka sudah mengalami seleksi alam yang ketat untuk menjadi sahabatmu. Coba kamu pikir, ada berapa ratus orang dalam angkatan, belum kakak kelas, adik kelas, dan seluruh orang di dunia ini. Kenapa sahabatmu si X atau si Y atau si Z?
Percayakah kamu, tidak semua orang bisa menjadi sahabatmu? Hanya yang cocok yang bisa. Dan apa menurutmu seleksi alam itu? Menurutku, alam itu sendiri adalah hati dan pikiran kita--dan sahabat kita--
Karena seleksi dari hati dan pikiran, cocok, maka kita akan bersahabat. Lalu sebaliknya.
Jika kemudian sahabatmu pergi, biar saja secara alami dia pergi. Alam memang memilihkan kamu yang cocok denganmu, yang kuat bersamamu, dan yang pantas bersamamu.
Aku adalah tipikal orang yang sekali berteman, akan berteman selamanya. Walau jauh, walau tak pernah lagi bersua, walau tak pernah berbincang. Aku akan selalu sama dengan kedekatan yang sama entah berapapun jarak dan waktu sudah memisahkan. Aku adalah sebuah hati teman yang kekal bagi SIAPAPUN. Misalnya aku punya teman dekat saat SMA, namanya Arman. Kami sudah lamaa sekali tidak pernah bertemu, mengobrol saja hampir tidak pernah. Dan itu terjadi bertahun-tahun. Lalu dia akan main ke kotaku, maka kami bermain bersama seperti sedekat saat kami masih SMA. Tidak ada yang berubah.
Menurutku begitu; sahabat yang dipilihkan alam tidak akan pernah pergi. Tidak akan pernah benci kamu menghilang (karena sebenarnya bukan karena kamu menghilang tapi mereka kenapa tidak nyapa, atau ngajak mengobrol lebih dulu), tidak akan pernah benci kamu tidak di sampingnya, tidak akan pernah menuntut apapun untuknya, tidak akan iri melihatmu bahagia meski dia sedang susah, dan akan selalu --minimal-- mendoakan perjuanganmu. Sama seperti yang kamu lakukan tanpa berkoar-koar, tentu saja.
Jadi, bagaimana kalau temanmu muak denganmu? biarkan saja dia muak. Bagaimana kalau dia ingin pergi? Biarkan saja dia pergi. Bagaimana kalau dia ingin kembali? Biarkan saja dia kembali.
Dan biarkan juga hatimu ingin berlaku seperti apa. Yang jelas, kamu tidak pernah berusaha menyakiti siapapun!

Kenapa Kita Bersahabat Dengan XYZ ?


Hari pertama masuk kelas sebagai orang asing, kamu tentu akan mencari teman. Begitu menemukan bangku duduk kemungkinan besar kamu akan mengajak orang di samping, depan, belakang, kanan, dan kirimu untuk berkenalan dan mengobrol. Kamu akan bertanya apapun yang ingin kamu tahu tentang mereka seperti kamu menjawab semua hal yang mereka ingin tahu tentangmu. Lalu kalian mulai berbagi pelajaran di depan kelas, lalu pergi ke kantin bersama, pergi ke toilet bersama, sampai menjadi kelompok dalam tugas. Kalian mengulangi semua yang dilakukan hari pertama selama bertahun-tahun kemudian. Berangkat bersama, nongkrong bersama. Intinya, kalian akrab. Kalian cocok.
Tapi kamu pasti tahu kan saat kamu pertama kali duduk di bangku kelas dan berkenalan dengan sekeliling terdekatmu, belum tentu kalian akan bersahabat? Kamu barangkali akan (entah dalam waktu berapa lama) dekat dengan teman yang lain, lalu berganti teman dekat dan teman bermain. Menurutmu kenapa itu bisa terjadi?
Ya. Kamu mungkin berteman dengan seisi kelas, tapi sahabatmu kemungkinan hanya 1 sampai 3 saja. Bukan masalah jumlah tapi KENAPA kamu bersahabat dengan dia, dengan XYZ itu?
Jawabannya adalah karena mereka sudah mengalami seleksi alam yang ketat untuk menjadi sahabatmu. Coba kamu pikir, ada berapa ratus orang dalam angkatan, belum kakak kelas, adik kelas, dan seluruh orang di dunia ini. Kenapa sahabatmu si X atau si Y atau si Z?
Percayakah kamu, tidak semua orang bisa menjadi sahabatmu? Hanya yang cocok yang bisa. Dan apa menurutmu seleksi alam itu? Menurutku, alam itu sendiri adalah hati dan pikiran kita--dan sahabat kita--
Karena seleksi dari hati dan pikiran, cocok, maka kita akan bersahabat. Lalu sebaliknya.
Jika kemudian sahabatmu pergi, biar saja secara alami dia pergi. Alam memang memilihkan kamu yang cocok denganmu, yang kuat bersamamu, dan yang pantas bersamamu.
Aku adalah tipikal orang yang sekali berteman, akan berteman selamanya. Walau jauh, walau tak pernah lagi bersua, walau tak pernah berbincang. Aku akan selalu sama dengan kedekatan yang sama entah berapapun jarak dan waktu sudah memisahkan. Aku adalah sebuah hati teman yang kekal bagi SIAPAPUN. Misalnya aku punya teman dekat saat SMA, namanya Arman. Kami sudah lamaa sekali tidak pernah bertemu, mengobrol saja hampir tidak pernah. Dan itu terjadi bertahun-tahun. Lalu dia akan main ke kotaku, maka kami bermain bersama seperti sedekat saat kami masih SMA. Tidak ada yang berubah.
Menurutku begitu; sahabat yang dipilihkan alam tidak akan pernah pergi. Tidak akan pernah benci kamu menghilang (karena sebenarnya bukan karena kamu menghilang tapi mereka kenapa tidak nyapa, atau ngajak mengobrol lebih dulu), tidak akan pernah benci kamu tidak di sampingnya, tidak akan pernah menuntut apapun untuknya, tidak akan iri melihatmu bahagia meski dia sedang susah, dan akan selalu --minimal-- mendoakan perjuanganmu. Sama seperti yang kamu lakukan tanpa berkoar-koar, tentu saja.
Jadi, bagaimana kalau temanmu muak denganmu? biarkan saja dia muak. Bagaimana kalau dia ingin pergi? Biarkan saja dia pergi. Bagaimana kalau dia ingin kembali? Biarkan saja dia kembali.
Dan biarkan juga hatimu ingin berlaku seperti apa. Yang jelas, kamu tidak pernah berusaha menyakiti siapapun!